Saturday, January 20, 2018

AUDIT SISTEM INFORMASI BERDASARKAN PERSPEKTIF PROSES BISNIS INTERNAL BALANCED SCORECARD DAN STANDAR COBIT 4.1



AUDIT SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ASET BERDASARKAN

PERSPEKTIF PROSES BISNIS INTERNAL BALANCED SCORECARD DAN

STANDAR COBIT 4.1

Studi Kasus: PT. Pertamina (Persero)







NAMA KELOMPOK : 
Ludfi Satria N 16114146
Nida Syahhadah 17114930

KELAS : 4KA23
TUGAS : AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI



Bagian Information Technology Marketing & Trading (IT M&T) area regional III PT. Pertamina (Persero) menangani beberapa proses yang salah satunya adalah manajemen aset. Aktifitas dari proses tersebut meliputi analisa kebutuhan hardware dari setiap unit bisnis se-Jatim, Bali dan Nusa Tenggara, serta melakukan penyewaan dan pembelian, hingga pendistribusian hardware ke masing-masing unit bisnis. Dalam mengelola proses tersebut, digunakan beberapa aplikasi bantu yang diantaranya adalah SAP dan aplikasi yangdikembangkan sendiri seperti aplikasi manajemen aset, helpdesk, serta aplikasi OpManager, dimana pengimplementasian aplikasi tersebut terutama manajemen aset sama sekali belum pernah diaudit guna memastikan keselarasannya dengan tujuan bisnis TI.

Untuk mengukur seberapa jauh keselarasan antara proses bisnis, aplikasi, dan strategi bisnis perusahaan maka perlu dilakukan audit sistem informasi dengan standar COBIT 4.1. Standar COBIT dipilih karena dapat memberikan gambaran paling detail mengenai strategi dan pengaturan


proses TI yang mendukung strategi bisnis, dimana kerangka kerjanya terdiri dari 4 domain (Sarno, 2009). Selain itu, dalam COBIT terdapat perhitungan maturity level yang merepresentasikan tingkat kematangan suatu perusahaan. Sedangkan

Balanced Scorecard (BSC) merupakan kartu skor yang digunakan untuk mengukur kinerja dengan memperhatikan keseimbangan antara faktor keuangan dan non-keuangan baik jangka pendek maupun panjang serta kondisi internal ataupun eksternal. Oleh karena manajemen aset di PT. Pertamina (Persero) dilakukan berdasarkan kebijakan internal perusahaan dengan maksud meningkatkan kualitas proses yang ada, maka termasuk dalam perspektif proses bisnis internal BSC.

LANDASAN TEORI

Sistem Informasi

Menurut O’Brien (2005: 5), sistem informasi (SI) adalah kombinasi teratur dari orang-orang, hardware, software, jaringan komunikasi dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi. Peran penting sistem informasi untuk sebuah perusahaan bisnis adalah:

Mendukung proses dan operasi bisnis.

Mendukung pengambilan keputusan para pegawai dan manajernya.
Mendukung berbagai strategi untuk keunggulan kompetitif.


Menurut Gondodiyoto (2007: 150), investasi di bidang TI sangat penting dievaluasi karena:

Menyangkut dana yang biasanya sangat besar, bahkan ada yang lebih dari 50% total investasi perusahaan.

Investasi di bidang TI tidak segera terlihat kaitannya langsung dengan revenue perusahaan.

Manfaat yang diperoleh perusahaan dari investasi TI seringkali bersifat intangible (tidak kelihatan langsung, misalnya dalam bentuk layanan ke pelanggan lebih baik).

Pandangan para pengguna mengenai manfaat TI pada umumnya berbeda-beda, tergantung pada posisinya.

Audit Sistem Informasi

Audit sistem informasi lebih ditekankan pada beberapa aspek penting, yaitu pemeriksaan dilakukan untuk menilai apakah sistem komputerisasi organisasi dapat mendukung pengamanan aset, dapat mendukung pencapaian tujuan organisasi, sudah memanfaatkan sumber daya secara efisien, serta apakah terjamin konsistensi dan keakuratan datanya (Gondodiyoto, 2007: 474).

COBIT (Control Objective for Information and related Technology)
 
COBIT merupakan standar yang menyediakan kerangka kerja yang terdiri dari sekumpulan proses TI yang dikelompokkan menjadi 4 domain, yakni

Plan and Organise (PO), Acquire and Implement (AI), Deliver and Support (DS), dan Monitor and Evaluate (ME).

Model Kematangan

Model kematangan dimaksudkan untuk mengetahui keberadaan persoalan yang ada di suatu organisasi dan bagaimana menentukan prioritas peningkatan atau perbaikan. Menurut standar COBIT, model kematangan dikelompokkan menjadi 6 tingkatan.

Balanced Scorecard

Dalam Balanced Scorecard terdapat 4 perspektif yakni perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Dimana keempat perspektif tersebut saling berkaitan satu sama lain (Gasperzs, 2005:62). Sedangkan fokus dalam perspektif proses bisnis internal adalah proses internal yang seharusnya dilakukan oleh manajemen untuk mencapai tujuan peningkatan nilai bagi pelanggan dan tujuan peningkatan nilai bagi pemegang saham.


METODOLOGI PENELITIAN

Langkah-langkah pelaksanaan audit sistem informasi meliputi:

1. Penentuan ruang lingkup dan tujuan audit sistem informasi.
2. Pengumpulan bukti.
3. Pelaksanaan uji kepatutan.
4. Penentuan tingkat kematangan.
5. Penentuan hasil audit sistem informasi.
6. Penyusunan laporan hasil audit sistem informasi.

IMPLEMENTASI DAN HASIL Penentuan Ruang Lingkup dan Tujuan Audit Sistem Informasi

Pada Balanced Scorecard terdapat pengelompokkan proses TI berdasarkan tujuan bisnis yang mengacu pada perspektif BSC. Untuk perspektif proses bisnis internal ini sendiri terdiri dari 30 proses TI.

Adapun tujuan dari perspektif proses bisnis internal adalah:
1. Meningkatkan dan memelihara fungsionalitas proses bisnis.
2. Menurunkan biaya proses.
3. Menyediakan kepatutan terhadap hokum eksternal, regulasi dan kontrak.
4. Menyediakan kepatutan terhadap kebijakan internal.
5.Mengelola perubahan bisnis.
6. Meningkatkan dan mengelola produktifitas operasional dan staff.

Pelaksanaan Uji Kepatutan dan Penentuan Tingkat Kematangan
 
Dalam tahap ini dilakukan analisa berdasarkan hasil pengumpulan bukti baik berupa wawancara ataupun analisa dokumen. Hasil analisa dari bukti yang didapat tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kematangan sesuai dengan pernyataan yang terdapat dalam kerangka kerja COBIT. Setelah di dapat nilai kematangan tiap proses-proses TI,


maka selanjutnya nilai tersebut dapat direpresentasikan ke dalam grafik jaring laba-laba. Adapun contoh dari kerangka kerja COBIT tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Sedangkan untuk perhitungan tingkat kematangan dapat dilihat pada Tabel 1. Dan untuk hasil representasi dari perhitungan tersebut dapat dilihat pada grafik jaring laba-laba di Gambar 2.



Gambar 1 Kerangka Kerja Tingkat Kematangan ME1 Level 4


Tujuan Bisnis



Kerangka Kerja COBIT

Nilai





Proses












Keterangan


Kematangan





TI





















AI1

Mengidentifikasi solusi otomatis

4.68





AI2

Memperoleh dan memelihara software aplikasi

3.79



Peningkatan

AI6

Mengelola perubahan

4.81





PO3

Menentukan arahan teknologi

4.56



dan











AI2

Memperoleh dan memelihara software aplikasi

3.79



pemeliharaan











AI5

Memenuhi sumber daya TI

4.44



fungsionalitas











PO2

Mendefinisikan arsitektur informasi

4.17



proses bisnis











AI4

Memungkinkan operasional dan penggunaan

4.90















AI7

Instalasi dan akreditasi solusi beserta

4.77







perubahaannya



















Rata-Rata

4.43



Tabel 1. Hasil Perhitungan Tingkat Kematangan
Tabel 1. Hasil Perhitungan Tingkat Kematangan

Penentuan dan Penyusunan Hasil Audit Sistem Informasi

Hasil evaluasi dari pelaksanaan audit sistem

Informasi nantinya akan berisi temua berdasarkan uji kepatuhan yang dilaksanakan serta rekomendasi guna memperbaiki proses yang ada. Format dari laporan tersebut akan bervaria si di setiap organi sasi sehingga tidak ada format baku dalam penyusunan nya. Laporan akhir dari audit seharusnya mempresentasikan gambaran organis asi saat ini kemudian memu ngkinkan pihak manaje men untuk mengambil langkah yang diperlu kan.

Penyusunan Temuan

Berdasarkan analisa dari hasil pe ngumpulan bukti selama pel aksanaan au dit sistem informasi manajemen asset di PT. Pertamina di dapat beberapa temuan yang memuat fakta-fakta baik yang telah dilaksanakan dengan baik sesuai standard COBIT ataupun yang masih perlu di perbiki lagi. Adapun fakta-fakta yang telah sesuai dengan standard COBIT diantaranya


1. Terdapat prosedure untuk proses bisnis yang akan secara keseluruhan laporan
2. Terdapat mengenai pelaksanaan proses secara keseluruhan
3. Terdapat pemantauan atas proses bisnis TI secara keseluruhan
4. Terdapat pengukuran dan proses evaluasi terhadap pelaksaan bisnis yang ada.
5. Terdapat pengendalian terhadap perubahan yang dilakukan.
6. Terdapat pengelolaan penggunakan program pelatihan bagi pendukung dan seluruh staf.
7. Terdapat aplikasi-aplikasi proses unuk melaksanakan bisnis secara keseluruhan

Sedangkan fakta-fakta yang masih perlu di perbaiki lain diantaranya adalah:

1. Kurangnya pemantauan terhadap pengembangan proyek ysng bersifat internal.
2. Persetujuan untuk pengembangan proyek internal masih bersifat informal.
3. Belum ada  mengenai pengguna dokumentasi prencanaan proyek internal.
4. Proses komunikasikepada penentuan terkait di beberapa dan anggaran investasi masih di lakukan kantor unit.
5. Belum ada pengeloaan pemasok.

Penyusunan Rekomendasi

Rekomendasi disusun berdasarkan temuan dari audit sistem informasi. Rekomendasi ini berguna untuk perbaikan proses di masa yang akan datang. Berdasarkan temuan yang telah diperoleh dari pelaksanaan audit manajemen asset, maka rekomendasi yang perlu dilakukan guna perbaikan proses tersebut adalah sebagai berikut:

1. Manajer lebih intensif memperhatikan perkembangan terhadap proyek yang dikerjakan. Hal ini dapat dilakukan dengan mencantumkan proses pengembangan proyek tersebut ke dalam indicator kinerja personil yang bertanggungjawab terhadap pengembangannya.
2. Membuat dokumentasi resmi tentang pengembangan proyek internal yang berisi:Alasan dikembangkannya proyek TI (manajemen aset).Tanggal disetujuinya proyek tersebut serta jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek tersebut. Penentuan pihak yang bertanggungjawab terhadap perkembangan proyek tersebut.
3. Membuat perencanaan pengembangan proyek internal yang berisi: Spesifikasi perangkat lunak dan perangkat keras yang dibutuhkan untuk mengembangakan aplikasi. Alur proses dari aplikasi yang sedang dikembangkan. Rincian struktur data yang dibutuhkan.
4. Mengkomunikasikan penentuan asset dan realisasi anggaran yang dibutuhkan untuk proses pengadaan investasi TI kepada semua pengguna yang dapat dilakukan pada saat proses distribusi aset ke semua pengguna yang dalam prakteknya dapat disertai dengan penyerahan duplikat dokumen Good receive.
5. Membuat dokumentasi untuk mengelola pemasok guna membantu proses pengadaan investasi di masa yang akan datang dan untuk meminimalisir kerugian yang ada akibat buruknya kualitas perangkat lunak atau perangkat keras yang disewa dari pemasok tersebut.

Dokumentasi tersebut dapat berisi:

- Identitas atau data lengkap pemasok
- Jenis aset yang dikelola pemasok
- History reputasi kinerja atau pelayanan yang telah diberikan pemasok kepada organisasi, yang dapat berupa ketepatan pemasok dalam hal pengiriman barang ataupun daftar jumlah kerusakan yang pernah terjadi pada barang yang dikirim pemasok tersebut






Kesimpulan

Dari hasil audit sistem informasi manajemen aset yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan berupa:

a. Proses manajemen aset termasuk dalam perspektif proses bisnis internal Balanced Scorecard dengan tujuan bisnis sebanyak 6 dan total proses TI sebanyak 30 proses.
b. Pengumpulan bukti yang diperoleh selama pelaksanaan audit sistem informasi berupa form hasil wawancara, dokumen-dokumen operasional dari proses manajemen aset, serta capture dari aplikasi-aplikasi yang digunakan dalam proses manajemen aset.
c. Perhitungan tingkat kematangan dari keseluruhan proses TI yang termasuk dalam perspektif proses bisnis internal Balanced Scorecard menghasilkan nilai sebesar 4.56 yang dalam standar COBIT termasuk dalam kriteria terkelola dan terukur.
d. Berdasarkan hasil audit sistem informasi manajemen aset yang telah dilakukan, didapatkan pernyataan bahwa pihak Pertamina belum pernah melakukan audit terhadap kinerja server guna memastikan keamanan sistem informasi.


Saran

Beberapa saran yang dapat diberikan untuk pengembangan lebih lanjut adalah sebagai berikut:
a. Audit sistem informasi manajemen aset ini hanya mengacu pada penerapan aplikasi manajemen aset. Diharapkan untuk pengembangannya, dapat dilakukan audit terhadap keseluruhan aplikasi pendukung proses manajemen aset.
b. Audit sistem informasi manajemen aset yang telah dilakukan hanya membahas sampai penilaian tingkat kematangan proses TI. Diharapkan untuk pengembangannya, dapat dilakukan audit sistem informasi manajemen aset dengan menggunakan standar COBIT 4.1 sampai dengan pembahasan KPI, PKGI, dan ITKGI.
c. Berdasarkan hasil audit sistem informasi manajemen aset yang telah dilakukan, didapatkan pernyataan bahwa pihak Pertamina belum pernah melakukan audit terhadap kinerja server. Diharapkan untuk pengembangannya, akan dilakukan audit terhadap kinerja server guna memastikan keamanan sistem informasi yang ada dengan menggunakan standar ISO.

Wednesday, January 10, 2018

Audit TSI Pada Lingkungan Personal Information System

Audit Sistem Operasi
Sistem Operasi : Microsoft Windows 10 Home Single Language (version 10.0.15063; build 15063)
Windows 10 merupakan sistem operasi yang paling terbaru yang sedang banyak dipakai oleh banyak pengguna karna mempunyai sistem operasi yang cukup baik dalam segala aspek dan lebih elegan dalam tampilan maupun dalam performa yang cukup baik jika di update secara berkala jika ada pembaruan.

Kelebihan Windows 10 :

1. kompatibel di semua perangkat
 windows 10 tidak hanya bisa dijalankan di komputer, notebook, dan netbook saja, akan tetapi sistem ini juga bisa dijalankan di smartphone atau tablet
2. dilengkapi dengan teknologi virtual dekstop
virtual dekstopadalah teknologi yang memampukan anda untuk membuat beberapa dekstop dengan tema dan tujuan yang berbeda. teknologi ini pun bisa memudahkan anda mencari file dengan sangat cepat dan akurat
 3. start menu yang bagus dan dinamis
 jika dilihat sekilas tampilan menu pada windows 10 nampak seperti penggabungan dari versi windows sebelum nya. start menu pada windwos 10 sangat mudah di mengerti dan lebih mudah di gunakan dari windows sebelumnya
4. membuka beberapa aplikasi dalam satu layar/bersamaan
ini adalah salah satu keunggulan yang banyak membantu orang-orang yang sibuk pada windows 10 kita bisa membuka beberapa aplikasi dan menampilkannya pada layar secara berdampingan, dengan cara memencet tombol windows+arah panah (kanan-kiri) secara bersamaan
5. penambahan aplikasi command
dengan aplikasi ini anda bisa berinteraksi dengan komputer memalui aplikasi command.


Kekurangan Windows 10 :

1. tidak dirancang untuk keperluan sehari-hari
windows 10 lebih ditujukan untuk pengguna yang sudah terbiasa dengan sistem komputer yang agak rumit
2. masih banyak perubahan
windows 10 adalah versi yang belum mencapai final dengan kata lain sewaktu-waktu pasti akan ada perbahan
3. tidak easy-to-use
sistem operasi ini kurang sesuai untuk orang awam karena memiliki sistem yang lebih rumit dari sistem windows sebelumnya
4. belum selesai digarap
windows 10 belum 100% selesai. jadi anda tidak usah terburu-buru mengupdate PC/perangkat anda untuk menggunakan sistem windows 10. gunakan windwos 7/8 yang lebih mudah untuk orang yang belum terbiasa dengan sistem yang rumit.



Audit Aplikasi

Berikut merupakan audit dari beberapa aplikasi yang digunakan di laptop saya, diantaranya yaitu :

1. Adobe Premiere Pro CC 2017|11.0.0||Adobe Systems Incorporated||2.5 GB
2. Adobe Photoshop CS6|13.0||Adobe Systems Incorporated||111.6 MB
3. CorelDRAW Graphics Suite X6|16.0.0.707||Corel Corporation||64.0 MB
4. FIFA 17|1.0.0.0|||2017-10-17|3.1 GB
5. Microsoft Office Professional Plus 2010|14.0.7015.1000|VYBBJ-TRJPB-QFQRF-QFT4D-H3GVB|Microsoft Corporation|2017-12-15|127.6 MB
6. NVIDIA GeForce Experience 3.9.0.61|3.9.0.61||NVIDIA Corporation|2017-09-03|2.6 MB
7. Sublime Text Build 3126|||Sublime HQ Pty Ltd|2017-06-09|22.7 MB
8. Windows 10 Update and Privacy Settings|1.0.14.0||Microsoft Corporation|2017-07-09|2.1 MB
9. Google Chrome|63.0.3239.84||Google Inc.|2016-12-05|362.6 MB
10. Adobe Dreamweaver CS6|12||Adobe Systems Incorporated||111.6 MB

Dari aplikasi diatas ada 10 aplikasi yang saya sering guanakan dengan penjelasana nama aplikasi, versi aplikasi, publisher, dan size dari masing masing aplikasi. Aplikasi diatas ada yang merupakan aplikasi multimedia, browser, game, dan aplikasi pengolah kata dan angka

Audit Penyimpanan

Di dalam audit penyimpanan akan dijelaskan beberapa poin yang cukup penting untuk mengetahuinya
diantaranya yaitu :
Disk = ST1000LM024 HN-M101MBB (931.5 GB)
Caption = ST1000LM024 HN-M101MBB
Serial number = S31QJ9KH700670
Size = 931.5 GB
Manufacturer = (Standard disk drives)
Interface type = IDE
Media type = Fixed hard disk media
Bytes per sector= 512
Heads = 255
Cylinders = 121601
Sectors = 1953520065
Tracks = 31008255
Dengan penyimpanan yang cukup besar yaitu 931.5 GB atau bisa dibilang 1TB, bisa meyimpan banyak data







Audit WLAN

Dalam audit WLAN akan di jelaskan menggunakan perangkat apa di dalam laptop yang saya audit ini secara jelas dan menjabarkan semua dengan rinci berikut penjelasannya :
1. Network adapter = Qualcomm Atheros QCA9377 Wireless Network Adapter
Adapter type = Ethernet 802.3
Net connection status = Media disconnected
Manufacturer = Qualcomm Atheros Communications Inc.
Speed = 0.0 bps
Adapter IP-addres =
Adapter MAC-address = 76:DF:4A:73:2F:40
DHCP enabled = True
DHCP server =
DNS domain =
WINS primary server =
WINS secondary server =




2. Network adapter = Realtek PCIe GBE Family Controller
Adapter type = Ethernet 802.3
Net connection status = Connected
Manufacturer = Realtek
Speed = 1.0 Gbps
Adapter IP-address = 192.168.100.3
Adapter MAC-address = 54:AB:3A:B2:F1:2A
DHCP enabled = True
DHCP server = 192.168.100.1
DNS domain =
WINS primary server =
WINS secondary server =


  Diatas merupakan penjelasan secaraa rinci hardware yang digunakan untuk WLAN dan LAN, WLAN dalam keadaan connect dan LAN dalam keadaan connect.

Audit TSI pada lingkungan Personal Information System

1. Pengertian Audit TSI

Audit teknologi informasi (Inggris: information technology (IT) audit atau information systems (IS) audit) adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh.
Audit system informasi merupakan proses mengumpulkan dan mengevaluasi fakta/temuan/ evidence untuk menentukan apakah suatu sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan menggunakan sumberdaya secara efisien.
Audit merupakan proses yang sistematis dalam memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti, guna memberikan asersi dan menilai seberapa jauh tindakan ekonomi sudah sesuai dengan kriteria berlaku, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak terkait.

2. Proses Audit

Audit dalam konteks teknologi informasi adalah memeriksa apakah sistem komputer berjalan semestinya. Tujuh langkah proses audit:

  1. Implementasikan sebuah strategi audit berbasis manajemen risiko serta control practice yang dapat disepakati semua pihak.
  2. Tetapkan langkah-langkah audit yang rinci.
  3. Gunakan fakta/bahan bukti yang cukup, handal, relevan, serta bermanfaat.
  4. Buatlah laporan beserta kesimpulannya berdasarkan fakta yang dikumpulkan.
  5. Telaah apakah tujuan audit tercapai.
  6. Sampaikan laporan kepada pihak yang berkepentingan.
  7. Pastikan bahwa organisasi mengimplementasikan managemen risiko serta control practice.

3. Teknik Audit

Teknik audit adalah cara yang dipergunakan oleh auditor untuk memperoleh bukti,   berikut adalah teknik yang umum di gunakan oleh auditor : analisis, observasi/pengamatan, permintaan informasi, evaluasi, investigasi, verifikasi, cek, uji/tes, footing, cross footing, vouching, trasir, scanning, rekonsiliasi, konfirmasi, bandingkan, inventarisasi, inspeksi.

A. Teknik-teknik audit yang dapat digunakan untuk pengujian fisik adalah :

Observasi/pengamatan adalah peninjauan dan pengamatan atas suatu objek secara hati-hati, ilmiah, dan berkesinambungan selama kurun waktu tertentu untuk membuktikan suatu keadaan atau masalah.

Inventarisasi/opname adalah pemeriksaan fisik dengan menghitung fisik barang, menilai kondisinya dan membandingkan dengan saldo menurut buku, kemudian mencari sebab-sebab terjadinya perbedaan apabila ada. hasil opname biasanya dituangkan dalam suatu berita acara.

Inspeksi adalah meneliti secara langsung ketempat kejadian, yang lazim pula disebut on the spot inspection, yang dilakukan secara rinci dan teliti.

B. Teknik audit untuk bukti dokumen.

Verifikasi Adalah pengujian secara rinci dan teliti tentang kebenaran, ketelitian perhitungan, kesahihan, pembukuan, kepemilikan, dan eksistensi suatu dokumen.

Cek adalah menguji kebenaran atau keberadaan sesuatu, dengan teliti.

Uji/Test uji test adalah penelitian secara mendalam terhadap hal-hal secara esensial atau penting.

Footing Adalah menguji kebenaran penjumlahan subtotal dan total dari atas ke bawah, footing dilakukan terhadap data yang disediakan auditi, tujuan teknik footing adalah untuk menentukan apakah data atau laporan yang disediakan auditi dpat diyakini ketepatan perhitungannya.

Vouching adalah menelusuri suatu informasi/data dalam suatu dokumen dari pencatatan menuju kepada adanya bukti pendukung, atau menelusuri mengikuti prosedur yang berlaku dari ahasil menuju awal kegiatan.

Trasir/telusur adalah teknik audit dengan menelusuri suatu bukti transaksi/kejadian menuju ke penyajian dalam suatu dokumen.

Scanning adalah penelaahan secara umum dan dilakukan dengan cepat tetapi teliti, untuk menemukan hal-hal yang tidak lazim atas suatu informasi. contoh scanning terhadap pengeluaran kas yang lebih besar dari Rp. 10.000.000

Rekonsiliasi mencocokan dua data yang terpisah, mengenai hal yang sama dikerjakan oleh bagian yang berbeda.

C. Teknik audit untuk bukti analisis.

Analisis memecah atau mengurai data informasi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil atau bagian-bagian, sehingga dapat diketahui pola hubungan antar unsur atau unsur penting tersembunyi.

Evaluasi merupakan cara memperoleh suatu kesimpulan dengan mencari pola hubungan atau dengan menghubungkan atau merakit berbagai informasi yang telah diperoleh baik bukti intern maupun ekstern.

Investigasi adalah suatu upaya untuk mengupas secara intensif suatu permasalahan melalui penjabaran, penguraian, atau penelitian secara mendalam. tujuan yaitu memastikan apakah indikasi yang diperoleh dari teknik audit yang lainnya dilakukanmemang benar terjadi.
Pembandingan yaitu membandingkan data dari satu unit kerja dengan unit kerja lain, atas hal sama dan periode yang sama atau hal yang sama dengan periode yang berbeda kemudian ditarik kesimpulan.

D. Teknik audit untuk bukti keterangan

Konfirmasi : adalah memperoleh bukti sebagai kepastian bagi auditor, dengan cara mendapatkan mendapatkan informasi yang sah dari pihak luar auditi. konfirmasi terdapat konfirmasi positif yaitu konfirmasi yang harus dijawab secara tertulis oleh pihak luar dan konfirmasi negatifmerupakan konfirmasi yang meminta jawaban tertulis bila data yang dikonfirmasi berbeda.

Permintaan informasi : Permintaan informasi yang dilakukan dengan tujuan menggali informasi tertentu berbagai pihak yang berkopeten. hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu sumber informasi.

4. Regulasi Audit


Dengan dominannya  penggunaan komputer dalam membantu kegiatan operasional diberbagai perusahaan, maka diperlukan standar-standar kontrol sebagai alat pengendali internal untuk menjamin bahwa data elektronik yang diproses adalah benar. Beberapa jenis standar kontrol yaitu:

a) COSO (Comitte Of Sponsoring Organizationof the treadway commission’s)


Yaitu dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan untuk menyatukan pandangan dalam komunitas bisnis berkaitan dengan isu-isu seputar pelaporan keuangan yang mengandung fraud (penggelapan).Tahun 1992, COSO menyusun dan Menerbitkan Internal Control Integrated Framework yang berisi rumusan definisi pengendalian intern, pedoman penilaian, serta perbaikan terhadap sistem pengendalian intern.Tahun 2004, COSO mengembangkan Internal Control Integrated Framework dengan menambah cakupan tentang manajemen  dan strategi resiko yang disebut ERM (Enterprise Risk Manajement).
Pencapaian tujuan pengendalian intern yang didefenisikan COSO:    
1.      Efektifitas dan efisiensi aktivitas operasi
2.      Kehandalan pelaporan keuangan
3.      Ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
4.      Pengamanan aset entitas.

b) COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)

Yaitu alat pengendalian untuk informasi dan tekhnology terkait dan merupakan standar terbuka yang dikembangkan oleh ISACA melalui ITGI (Information and Technology Governance Institute)pada tahun 1992. Tujuan dari COBIT yaitu untuk mengembangkan , melakukan riset dan mempublikasikan suatu standar teknologi informasi yang diterima umum dan selalu up to date untuk digunakan dalam kegiatan bisnis sehari-hari.

c) SARBOX (Sarbanes-Oxley Act)

Yaitu merupakan peraturan yang ditandatangani Presiden George W.Bush tanggal 30 juli 2012 untuk mereformasi dunia pasarmodal Amerika Serikat. Tujuan SARBOX yaitu:
1.      Meningkatkan akuntabilitas manajemen dengan memastikan bahwa manajemen akuntan dan pengacara memiliki tanggung jawab atas informasi keuangan yang menjadi tanggung jawab mereka.
2.      Meningkatkan pengungkapan dengan berusaha untuk menyatakan bahwa beberapa kejadian kunci dan transaksi luar biasa tidak mendapatkan pengawasan hanya karena tidak disyaratkan untuk diungkap di publik.
3.      Meningkatkan pengawasan rutin yang lebih intensif oleh SEC.
4.      Meningkatkan akuntabilitas akuntan.

d) ISO 17799

Yaitu standar untuk sistem manajemen keamanan informasi meliputi dokomen kebijakan keamanan informasi, alokasi keamanan informasi tanggung-jawab,menyediakan semua para pemakai dengan pendidikan dan pelatihan didalam keamanan informasi, mengembangkan suatu sistem untuk pelaporan peristiwa keamanan, memperkenalkan virus kendali, mengembangkan suatu rencana kesinambungan bisnis, mengendalikan pengkopian perangkat lunak kepemilikan, surat pengantar arsip organisatoris, mengikuti kebutuhan perlindungan data, dan menetapkan prosedure untuk mentaati kebijakan keamanan.

e) BASEL II

BASEL II dibentuk yaitu sebagai penerapan kerangka pengukuran bagi risiko kredit, sistem ini mensyaratkan Bank-bank  untuk memisahkan eksposurnya ke dalam kelas yang lebih luas, yang menggambarkan kesamaan tipe debitur(hutang).

5. Standar dan Kerangka Kerja Audit


Standar Audit SI tidak lepas dari standar professional seorang auditor SI. Standar professional adalah ukuran mutu pelaksanaan kegiatan profesi yang menjadi pedoman bagi para anggota profesi dalam menjalankan tanggungjawab profesinya. 
Standar profesional adalah batasan kemampuan (knowledge, technical skill and professional attitude) minimal yang harus dikuasai oleh seseorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang aturan-aturannya dibuat oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Beberapa diantaranya adalah:

ISACA : IT Standards, Guidelines, and Tools and Techniques for Audit and Assurance and Control Professionals
IIA : International Professional Practices Framework / IPPF
IASII : Standar Audit Sistem Informasi
BI : Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank / SPFAIB
BPPT : Framework, Kode Etik & Standar, Pedoman Umum Audit Teknologi
Standar dan kerangka kerja menurut ISACA:



S1 Audit Charter

o Tujuan, tanggung jawab, kewenangan dan akuntabilitas dari fungsi audit sistem informasi atau penilaian audit sistem informasi harus didokumentasikan dengan pantas dalam sebuah audit charter atau perjanjian tertulis.
o Audit charter atau perjanjian tertulis harus mendapat persetujuan dan pengabsahan pada tingkatan yang tepat dalam organisasi.

S2 Independence

o Professional Independence
o Dalam semua permasalahan yang berhubungan dengan audit, auditor sistem informasi harus independen terhadap auditee baik dalam sikap maupun penampilan.
o Organisational Independence
o Fungsi audit sistem informasi harus independen tehadap area atau aktivitas yang sedang diperiksa agar tujuan penilaian audit terselesaikan.

S3 Professional Ethics and Standards

o Auditor  sistem informasi harus tunduk pada kode etika profesi dari ISACA dalam melakukan tugas audit.
o Auditor sistem informasi harus patuh pada penyelenggarakan profesi, termasuk observasi terhadap standar audit profesional yang dipakai dalam melakukan tugas audit.

S4 Professional Competence

o Auditor sistem informasi harus seorang profesional yang kompeten, memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk melakukan tugas audit.
o Auditor sistem informasi harus mempertahankan kompetensi profesionalnya secara terus menerus dengan melanjutkan edukasi dan training.

S5 Planning

o Auditor sistem informasi harus merencanakan peliputan audit sistem informasi sampai pada tujuan audit dan tunduk pada standar audit profesional dan hukum yang berlaku.
o Audit sistem informasi harus membangun dan mendokumentasikan resiko yang didasarkan pada pendekatan audit.

S6 Performance of Audit Work

o Pengawasan-staff audit sistem informasi harus diawasi untuk memberikan keyakinan yang masuk akal bahwa tujuan audit telah sesuai dan standar audit profesional yang ada.
o Bukti-Selama berjalannya audit, auditor sistem informasi harus mendapatkan bukti yang cukup, layak dan relevan untuk mencapai tujuan audit. Temuan audit dan kesimpulan didukung oleh analisis yang tepat dan interprestasi terhadap bukti-bukti yang ada.
o Dokumentasi-Proses audit harus didokumentasikan, mencakup pelaksanaan kerja audit dan bukti audit untuk mendukung temuan dan kesimpulan auditor sistem informasi.

S7 Reporting

o Auditor sistem informasi harus menyajikan laporan, dalam pola yang tepat, atas penyelesaian audit.
o Laporan audit harus berisikan ruang lingkup, tujuan, periode peliputan, waktu dan tingkatan kerja audit yang dilaksanakan.
o Laporan audit harus berisikan temuan, kesimpulan dan rekomendasikan serta berbagai pesan, kualifikasi atau batasan dalam ruang lingkup bahwa auditor sistem informasi bertanggung jawab terhadap audit.
o Auditor sistem informasi harus memiliki bukti yang cukup dan tepat untuk mendukung hasil pelaporan.



6. Manajemen Resiko
Risiko merupakan sesuatu yang tidak ada dalam rencana proyek namun mungkin terjadi dan menyebabkan waktu pelaksanaan proyek menjadi terlambat terlambat, biaya membengkak membengkak dan kompromi terhadap kualitas/kinerja. Risiko merupakan merupakan ancaman-ancaman dalam proyek.
Manajemen Risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian resiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi resiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak lain, menghindari resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi resiko tertentu.




Empat Tahap Manajemen Manajemen Risiko
1.      Identifikasi

  • Antisipasi risiko
  • Membuat daftar risiko, pemicunya dan gejalanya

2.      Analisis

  • Mengevaluasi kemungkinan dampak yang ditimbulkan
  • Kualitatif vs. Kuantitatif

3.      Merespon Risiko Pengembangan strategi mitigasi risiko

  • Mengurangi Mengurangi dampak yang ditimbulkan ditimbulkan risikko risikko
  • Mebuat contigency plan / rencana darurat

4.      Mengendalikan Risiko

  • Memonitor
  • Melakukan update daftar dan strategi
  • Menjalankan contingency plan
  • Menghadapinya

Cara Melakukan Manajemen Resiko Dengan Efektif

Untuk melakukan manajemen risiko kita perlu melelui beberapa proses. Seperti yang dikutip dari id.wikipedia.org, COSO atau  Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission menyebutkan ada delapan kerangka yang berkaitan dalam Manajemen Risiko Korporasi (MRK) yaitu
  • Lingkungan internal (internal environment)
  • Penentuan sasaran (objective setting)
  • Identifikasi peristiwa (event identification)
  • Penilaian risiko (risk assessment)
  • Tanggapan risiko (risk response)
  • Aktivitas pengendalian (control activities)
  • Informasi dan komunikasi (information and communication)
  • Pemantauan (monitoring)